Ayatullah Ali Khamenei :
Ini adalah sepenggal dari sabda Rasulullah saw, tanda orang yang berakal (bijak) adalah bersikap sabar terhadap orang yang tidak mengenalnya.
Al-Jahl dalam riwayat memiliki 3 istilah :
PERTAMA, lawannya ilmu, yakni orang yang tidak mengetahui sesuatu.
KEDUA, lawan dari berakal. Kitab al-Jahl wal 'aql (salah satu nama kitab) mengatakan maksudnya adalah tidak menggunakan akalnya..
KETIGA, lawan kata hilim, yakni al-Jahl di sini bermakna keras kepala, sembrono, berakhlak buruk dan semisalnya.
Ini mungkin maksud istilah jahl dalam ungkapan kita, seperti 'melakukan sesuatu tanpa berpikir (sembrono)'. Ungkapan jahil dan juhala (jamak) biasanya ditujukan orang yang 'tidak kenal takut'. Mungkin diambil dari istilah (dalam riwayat) ini, jahl sebagai lawan kata hilim.
Ini adalah tanda orang berakal yang pertama, yakni sabar dalam menghadapi orang yang jahil. Tentunya jika dia menghina kepribadianmu, bersikaplah seperti ini (sabar). Namun jika seseorang melecehkan agama, maka Anda harus bereaksi
2. Dan memaafkan orang yang menzaliminya dan rendah hati terhadap yang di bawahnya. Ketika kita tawadhu pada yang lebih tinggi derajatnya, ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Kita harus tawadhu kepada yang di bawah kita. Ini juga tanda orang berakal.
3. Dan berlomba dengan mereka yang lebih dahulu dalam memperoleh kebajikan dan kesalehan. Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah barat dan timur, tetapi kebajian itu adalah yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Itulah (makna) kebajikan. (Orang berakal) berlomba dalam memperoleh kebajikan. Sebagian orang berlomba untuk meraih dunia, (seperti) rumah besar di tempat elit, mobil yang mewah, keturunan, pasangan, dan perhiasan-perhiasan, dan lain-lain. Semua ini adalah perlombaan yang buruk. Perlombaan yang baik adalah berlomba dalam memperoleh ampunan Allah. Inilah manifestasi berlomba dalam kebajikan. Ini pun ciri orang berakal.
4. Dan jika berbicara, ia berpikir terlebih dahulu. Jika baik, maka dia berbicara dan mengambil manfaat. Hal ini tentunya bersifat alami. Ketika kita berpikir sebelum berbicara, maka akan mendapat manfaat dari yang kita ucapkan. Seperti inilah (ajaran) Islam. Islam tidak mengajarkan bicaralah untuk merugi. Namun bicaralah dan ambillah manfaat darinya, yakni manfaat yang benar. Tapi kapan itu terjadi? Tentunya bukan ketika kita berbicara asal-asalan. Berpikirlah sebelum berbicara. Jika baik, maka dia berbicara dan mengambil manfaat. Dan jika buruk, ia diam dan ia selamat. Ini adalah kebalikannya.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar